Awal Mula Rindu hati

Nama Desa Rindu Hati berawal dari riwayat perang anak dalam muaro Bengkulu dengan kerajaan Aceh. Anak dalam Muaro  Bengkulu, Adiknya bernama Putri Gading Cepaka  dengan inang pendampingnya Putri Dayang Perindu. Putri Gading Cempaka  adalah wanita yang paling cantik dalam masa itu. Raut wajahnya nampak darah mengalir, Rambutnya panjang sampai ke lutut, tutur katanya  lemah lembut, sehingga ia disayangi tua dan muda. Dayang Perindu sebagai inang pengasuh, orangnya hitam manis, senyumnya sangat menawan. Ia ahli dalam sastra bahasa. Kata kiasannya yang sangat halus. Pantunnya menarik dan menawan hati.

Pada suatu ketika Raja Aceh datang melamar Putri Gading Cempaka untuk menjadi menantunya. Dalam rasan meminang ini, Anak Dalam Muaro  Bengkulu tidak minta apa-apa (uang dan barang), hanya permintaan dengan empat syarat :

  1. Atan ditanam bertunas (tubuh)
  2. Kemiri ditanam tumbuh dalam tempo 7 hari
  3. Cendawan tumbuh di kayu dengan bukti yang nyata, sepotong kayu hidup tumbuh cendawan.
  4. Tanaman siri di kandang kuda

Oleh karena Raja Aceh tidak sanggup permintaan Anak Dalam Muaro Bengkulu, Raja Aceh merasa malu yang sangat dalam. Maka Raja Aceh berusaha bermacam-macam cara dan tipu muslihat menculik Gading Cempaka dibawa ke istana Raja Aceh. Singkat cerita anak raja Aceh dapat melarikan putri Gading Cempaka dan pengawalnya Putri Dayang Perindu langsung ke Istana Raja Aceh. Setelah Putri Gading Cempaka  berada di istana Raja Aceh maka Raja Aceh mengeluarkan pengumuman ke seluruh negeri Aceh untuk mengadakan perayaan pernikahan anaknya dengan putri Gading Cempaka selama 7 hari 7 malam dan membuat balai yang sangat mewah dan indah dengan warmna warni yang sangat menarik . dalam hal ini anak dalam Muarao bangkahulu memerintahkan serindang papan dan Monok Nicur untuk menyelidiki adiknya Putri Gading Cempaka dan putri Dayang Perindu.

Hasil percakapan Monok Nicur dengan putri  Dayang Perindu yaitu pada malam terakhir kami dari Bengkulu mengadakan serangan mendadak ditempat balai perayaan. Supaya Putri Gading cempaka dan Dayang Perindu menunggu di pintu belakang balai perayaan. Kira-kira tengah malam, malam terakhir serangan dari Bnegkulu pada malam itu juga oleh Serindang papan dan kawan-kawan.

Umang Batu menerjang balai tempat perayaan sehingga rusak porak poranda. Terakhir serangan dilepaskan Sarang Tabuan yang sudah dibelah-belah. Semua orang yang berada dibalai itu bertebaran lari. Sehingga  Putri Gading Cempaka dengan mudahnya dibawa ke Bengkulu pada malam itu juga oleh Serindang Papan dan kawan-kawannya.

Anak dalam Muaro Bengkulu tahu perasaan Raja Aceh mendongkol dan malu. Anak Dalam Muaro bengkulu dalam kejadiaan ini, memerintahkan Serindang Papan pergi ke  Aceh untuk menyelidiki apa dan bagaimana sikap rencana Raja Aceh setelah Putri Gading Cempaka  dapat diambil pada malam terakhir perayaan dibalai yang sangat megah, yang sangat meresahkan dan sangat memaluhkan Raja Aceh. Umang Batu diperintahkan untuk membuat Jung (perahu) untuk menyingkirkan putri Gading Cempaka dan putri Dayang perindu dari bengkulu. Lalu Uamang Bantu membuat Jung dari batu  tidak sampai setengah hari.

Serindang Papan masuk ke tanah Aceh menyamar sebagai tekukur yang sangat menarik di pandang dan suaranya sangat merdu dalam pendengaran. Tidak perlu diikat karena sangat jinak dan sangat menyenangkan hati. Cuma tiga hari lamanyaSerindang papan berada di Aceh untuk menyelidiki apa dan bagaimana rencana raja aceh. Singkat cerita serindang setelah kembali dari aceh melapor kepada Anak Dalam Muaro Bangkahulu. Hasil penyelidikan Serindang papan sebagai berikut :

  1. Mengadakan perang besar-besaran ke kota Bengkulu untuk membunuh Anak Dalam Muaro Bangkahulu beserta kawan-kawannya.
  2. Menyiapkan kapal sebanyak-banyaknya dan perahu yang tidak pula sedikit.
  3. Seluruh orang yang dianggap sakti-sakti harus berangkat semua dalam perangg ke bengkulu
  4. Mempersiapkan minyak setampur nyawa s ebanyak-banyaknya untuk menghidupkan angkatan perang aceh yang sudah mati dan yang luka cepat disembuhkan sengan cepat sekali.
  5. Untuk masuk Kota Bengkulu dibagi atas dua jalur yaitu pasukan I masuk dari pantai panjang, pasukan ke II masuk dari Muara Bengkulu atau muara sungai Rindu Hati.
  6. Pasukan Aceh masuk kota bengkulu paling lambat seminggu lahi (7 hari).

Mendengar dan memperhatikan laporan serindang papan tersebut, Anak Dalam Muaro Bangkahulu memerintahkan kelam muaro memberangkatkan Jung Muaro memanggil  angin empat  penjuru bumi. Setelah angin bertiup, melayanglah jung diatas air Rindu Hati menuju bukit enau dan air sengak dan tempat  terhentinya jung ini disebut tebeak penanjung (tabah tempat jung) yang sekarang dikenal dengan Taba Penanjung. Setelah sampai Putri Gading Cempaka dan Putri Dayang perindu  diperdaratan bukit enau, kedua putri ini singgah dulu mandi, dipinggir air sampai kini masih ada keberadaanya dipinggir sungai simpang kawan. Tumpahan minyak putri gading cempaka disungai ini yang menyebabkan orang yang datang ke desa Rindu Hati tidak bisa sekali, sebab hatinya selalu rindu hendak datang lagi. Inilah  asal usul nama Desa Rindu Hati.

Setelah sampai pada hari ketujuh sesuai laporan Serindang papan, maka tibalah pasukan perang aceh, sebagian mendarat dipantai panjang dan sebagian lagi mendarat di pantai muaro Bengkulu. Dua pertiga masih berada dilaut. Ini hasil penyelidikan monok micur menyamar sebagai burung elang.

Lalu anak dalam muaro bengkulu mengeluarkan suara yang sangat keras dan nyaring sehingga terdengar diseluruh  bukit gunung seluruh Bengkulu. Pekik anak dalam ini, kini dinakan pekik nyaring. Tujuan pekik anak dalam supaya seluruhh masyarakat Bengkulu perang dengan kerajaan aceh sudah mulai.

Uamang Batu mendengar pengumuman perang ini, lalu melompat sehingga serentak lebar dan dalam sekarang disebut tanah patah. Dengan cepat pula kelam muaro memanggil angin empat penjuru bumi, maka terjadilah angin badai yang sangat dasyat sehingga laut menggunung ditengah badai tsunami istilah sekarang.

Hasil kesaktian kelam muaro ini seluruh kapal poerang aceh habis semua. Yang masih bertahan dilaut. Selanjutnya laut menggunung ditengah kembali menerjang pantai bengkulu. Akhirnya menyambar seluruh kapal aceh yang sudah merapat dipantai Bengkulu. Pasukan perang aceh berada dipantai panjang dikomadoi oleh kelm muaro dan uamng batu. Pasukan perang yang berada dipantai muari bengkulu dipimpin oleh anak dalam  muaro bengkulu dan selaput menau dengan tongkat pusakanya yang sangat hebat itu.

Melihat hebatnya serangan yang dipimpin anak dalam muaro bengkuluy dan selaput manau, orang aceh bersembunyi disuatu semak lalu disorok oleh selaput manau dengan tongkat saktinya dan pedang pusaka anak dalam sehingga bertaburlah disitu tulang-belulang orang aceh yang kini disebut talang kering yang dulunya disebut tyulang kering.

Dalam perang, monok micur mengintai gerak pasukan aceh, menampakkan dirinya seperti burung elang. Terbang berkeliling disekitar terjadinya perang. Sementara seringdang papan berkerjasama dengan monok micur sebagai penghubung pada umang batu dan kelam muaro dipantai panjang. Sekali-kali melapor pada anak dalam dan selaput manau yang memimpin peperangan dimuaro bengkulu. Monok micur dan serindang papan telah mengetahui pasukan perang aceh yang bersembunyi disemak pekik nyaring.

Setelah perang usai dengan pasukan perang aceh, anak dalam muaro Bengkulu memerintahkan serindang papan menjemput putri gading cempaka yang masih berada dibukit endu. Sepanjang riwayat yang kami dengar dari cerita orang putri gading cempaka dapat diajak ke Bengkulu sedangkan putri dayang perindu tidak mau lagi diajak balik karena sudah jatuh cinta dengan orang siluman. Akhirnya putri dayang perindu menikah dengan orang seluman yang kini masih ada didusun seluman disekitar danau rindu hati. Banyak kisah yang orang bertemu dengan dusunseluman disekitar danau  rindu Hati. Cerita ini kami dengar dan kami kutip dari seorang ahli guritan (andai-andai) yang pakai lagu.

Secara ringkas Desa Rindu Hati pada lebih kurang abad 15 masehi yang termasuk didalam wilayah marga SELUPU BARU kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Utara yang kini telah menjadi Bengkulu Tengah. Nama Desa diambil dari perasaan kerinduan keluarga besar anak dalang dan para sahabat yaitu “INDEU ATIE” yang dalam bahasa rejangnya “Duatei” yang berarti RINDU HATI. Dan persis ini dibuktikan bahwa  penduduk Rindu Hati sebagian berasal dari sungai limau bergelar Raja dan Siti

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen + 20 =

Stay Connected

0FansLike
2,987FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

kami masyarakat rinduhati akan membatu
WeCreativez WhatsApp Support
Eko Risdianto
Available
WeCreativez WhatsApp Support
Hardiansah
Hardiansah
Available
WeCreativez WhatsApp Support
Rezky
Available
WeCreativez WhatsApp Support
Yoga
Yoga
Available